BELAJAR, BERJUANG, BERTAQWA

PC IPNU-IPPNU WONOSOBO

IKATAN PELAJAR NAHDLATUL ULAMA - IKATAN PELAJAR PUTRI NAHDLATUL ULAMA

PC IPNU-IPPNU WONOSOBO

IKATAN PELAJAR NAHDLATUL ULAMA - IKATAN PELAJAR PUTRI NAHDLATUL ULAMA

DKC CBP-KPP WONOSOBO

CORPS BRIGADE PEMBANGUNAN - KORP PELAJAR PUTRI

PC IPNU-IPPNU WONOSOBO

IKATAN PELAJAR NAHDLATUL ULAMA - IKATAN PELAJAR PUTRI NAHDLATUL ULAMA

PC IPNU-IPPNU WONOSOBO

IKATAN PELAJAR NAHDLATUL ULAMA - IKATAN PELAJAR PUTRI NAHDLATUL ULAMA

PC IPNU-IPPNU WONOSOBO

IKATAN PELAJAR NAHDLATUL ULAMA - IKATAN PELAJAR PUTRI NAHDLATUL ULAMA

PC IPNU-IPPNU WONOSOBO

IKATAN PELAJAR NAHDLATUL ULAMA - IKATAN PELAJAR PUTRI NAHDLATUL ULAMA

PC IPNU-IPPNU WONOSOBO

IKATAN PELAJAR NAHDLATUL ULAMA - IKATAN PELAJAR PUTRI NAHDLATUL ULAMA

DKC CBP-KPP WONOSOBO

CORPS BRIGADE PEMBANGUNAN - KORP PELAJAR PUTRI

PC IPNU-IPPNU WONOSOBO

IKATAN PELAJAR NAHDLATUL ULAMA - IKATAN PELAJAR PUTRI NAHDLATUL ULAMA

Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan

Sabtu

BEASISWA UNSIQ 2014

BEASISWA KERJASAMA UNSIQ – PC IPNU IPPNU WONOSOBO

Dalam rangka memberikan kesempatan kepada Lulusan SMA, SMK, MA Paket C dari kalangan kurang mampu untuk dapat melanjutakan ke jenjang pendidikan tinggi yang murah, mudah dan lokasi terjangkau UNSIQ membuka program beasiswa kerjasama dengan PC IPNU IPPNU WONOSOBO
Mahasiswa yang mengikuti pendidikan hanya membayar sumbangan operasional sebesar Rp. 650.000 (enam ratus lima puluh ribu rupiah) dan Dana Kemahasiswaan Rp.50.000 (lima puluh ribu rupiah) sampai dengan selesai kuliah pada program studi tertentu. 



Dengan syarat :
1. Berdomisili di Kabupaten Wonosobo dibuktikan dengan melampirkan fotokopi KTP.
2. Telah dinyatakan lulus SMA/ SMK/ MA/ Paket C dibuktikan dengan fotokopi ijazah/ STK yang terlegalisir.
3. Usia maksimal 25 tahun pada tanggal 1 September 2014
4. Sanggup mengikuti pendidikan sebagaimana program studi yang dipilih/ ditawarkan pada saat mendaftar
5. Diberikan rekomendasi ole IPNU IPPNU

PROGRAM STUDI YANG DITAWARKAN
Pendidikan Bahasa Arab, Jenjang S1, quota : 40 Orang
Komunikasi Penyiaran Islam, Jenjang S1, quota : 40 orang
Muamalah, Jenjang S1, quota : 40 orang
Tafsir Hadist, Jenjang S1, quota : 40 orang
Teknik Arsitektur, Jenjang S1, quota : 40 orang
Teknik Mesin, Jenjang D3, quota : 40 orang
Teknik Elektro, Jenjang D3, quota : 40 orang

KETENTUAN PROGRAM BEASISWA :
1. Calon mahasiswa dari program beasiswa siswa miskin melampirkan Surat Tanda Kelulusan
2. Calon mahasiswa dari program beasiswa siswa miskin melampirkan surat keterangan tidak mampu dari Kepala Desa/ Kelurahan sebagai bukti dari keluarga kurang mampu.
3. Pendaftaran wajib melengkapi persyaratan-persyaratan pada saat mendaftarkan diri sebagai mahasiswa baru UNSIQ (persyaratan yang menyurul tidak diterima).
4. Setelah diterima mahasiswa yang bersangkutan tidak dapat diikutsertakan dalam program beasiswa yang lain baik dari Yayasan maupun pihak luar.
5. Berdasarkan kebutuhan program studi tertentu dan akan dilakukan penjurusan apabila yang bersangkutan menurut penilaian secara akademis maupun pertimbangan tertentu tidak memenuhi syarat pada program studi yang dipilih sebelumnya.
6. Seleksi dilakukan dengan mempertimbangkan :
- Potensi/ prestasi calon mahasiswa
- Kemampuan finansial orang tua mahasiswa
- Keaktifan dalam kegiatan di desa/ organisasi
7. Surat rekomendasi dari Pimpinan Cabang IPNU IPPNU Kabupaten

WAKTU DAN SYARAT PENDAFTARAN
1. Pendaftaran dibuka mulai 1 Februari sampai dengan 31 Mei 2014.
2. Mengisi formulir pendaftaran (yang telah disediakan) dengan lengkap.
3. Melengkapi persyaratan pendaftaran (fotokopi STK terlegalisasir, Fotocopi KTP, Surat Keterangan, Surat Rekomendasi)
4. Membayar biaya pendaftaran sebesar Rp.100.000 (seratus ribu rupiah)
5. Membayar biaya administrasi Rp. 10.000 (sepuluh ribu rupiah)
6. Pendaftaran dan pengambilan formulir bisa dilakukan pada :
Mulai Senin, 10 Februari 2014 jam 14.00 WIB
di Kantor PC IPNU IPPNU Alamat : Gedung PCNU Kab. Wonosobo Lt.2, Jalan Kauman No.13 Wonosobo.

Contac Person :
Ahmad Haryanto (Ketua PC IPNU Wonosobo) : 087834374474, 085747511694
Amintarsih (Ketua PC IPPNU Wonosobo) : 087734117533, 085786772955
Hasan Ngulvi (Ketua Panitia) : 081517869907

Jumat

ASAL-USUL SANG GARUDA, LAMBANG NEGARA INDONESIA

Garuda kita kenal sebagai lambang Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tahukah kita semua kenapa burung Garuda dipilih sebagai lambang negara kita yang besar? Bagaimana asal-usul dan sosok sang Garuda dalam kepercayaan ataupun mitologi para nenek moyang dan pendiri bangsa kita?

Garuda dalam khasanah sejarah Nusantara muncul dalam berbagai mitologi yang diajarkan dalam agama Hindu. Garuda merupakan burung gagah perkasa yang diyakini sebagai tunggangan Dewa Wisnu. Pada masa pemerintahan Raja Airlangga di Kahuripan, untuk mengokohkan kedudukan politiknya, Airlangga dianggap sebagai titisan Dewa Wisnu. Kemudian digambarkanlah Airlangga sebagai titisan Wisnu yang sedang mengendarai Garuda. Garuda Wisnu Kencana, simbolisasi itulah yang dipergunakan sebagai simbol Kerajaan Kahuripan. Lalu bagaimana asal-usul Garuda dalam kisah mitologi agama Hindu?

Alkisah di negeri dongeng, tersebutlah seorang guru nan bijaksana bernama Resi Kasyapa.  Resi ini memiliki dua orang istri yang bernama Kadru dan Winata. Masing-masing dikaruniai anak-anak berupa Naga dan Garuda. Meskipun sang resi sangat bijaksana dan bersikap adil terhadap kedua istrinya, namun Kadru senantiasa merasa cemburu terhadap Winata. Maka dalam setiap kesempatan ia senantiasa ingin menyingkirkan Winata dari perhatian dan lingkaran keluarga. Segala tabiat dan niat jahat seringkali dijalankan untuk menjauhkan Winata dari suami mereka.

Pada suatu ketika, para dewa mengaduk samudra purba dengan air suci amertha sari, air suci yang membawa keabadian bagi siapapun makhluk yang meminumnya. Bersamaan dengan peristiwa itu muncullah kuda yang bernama Ucaihsrawa. Didorong oleh rasa kecemburuan yang telah menahun, Kadru menantang Winata untuk bertaruh mengenai warna kuda Ucaihsrawa. Barang siapa yang kalah dalam pertaruhan tersebut, maka ia harus menjadi budak seumur hidup yang harus taat dan patuh terhadap apapun kehendak dan perintah sang pemenang. Dalam taruhan, Kadru bertaruh Ucaihsrawa berwarna hitam. Sedangkan Winata memilih warna putih.

 Para Naga tahu bahwa kuda Ucaihsrawa sebenarnyalah berwarna putih. Mereka kemudian melaporkan hal tersebut kepada Kadru, ibunda mereka. Atas pelaporan para Naga, putranya, Kadru secara licik memerintahkan para Naga untuk menyemburkan bisa mereka ke tubuh kuda putih agar nampak seperti kuda hitam. Pada saat Ucaihsrawa tiba di hadapan Kadru dan Winata, nampaklah kuda yang dipertaruhkan berwarna hitam, bukan putih sebagaimana aslinya. Singkat cerita, Winata harus menjadi budak dan melayani segala perintah Kadru seumur hidupnya yang tersisa.

Sebagai anak yang sangat berbakti kepada ibundanya, Garuda merasa sangat marah atas kelicikan para Naga yang telah membuat kebohongan besar atas diri Winata. Dengan kemarahan meluap, diseranglah para Naga. Terjadilah pertempuran yang sangat dahsyat di atas langit, antara Garuda dan para Naga. Dikarenakan kekuatan dan kesaktian diantara kedua kubu sama dan seimbang, maka perang itupun berlangsung sepanjang saat sebagai simbol keabadian pertempuran antara nilai kebaikan dan kebatilan.

Karena pertempuran berlangsung sekian lama panjangnya, para Naga bersedia memberikan pengampunan atas perbudakan terhadap Winata asalkan Garuda mampu memberikan tirta suci amertha sari yang dapat memberikan keabadian hidup mereka dan ibunya. Akhirnya sang Garuda menyanggupi apapun yang harus ia lakukan asalkan ia dapat membebaskan ibundanya.



Dalam pengembaraan pencarian tirta suci amertha sari, Garuda berjumpa dengan Dewa  Wisnu. Ketika dimintakan air suci tersebut, Wisnu mempersyaratkan akan memberikan air tersebut, asalkan  sang Garuda menyanggupi diri untuk menjadi tunggangan bagi Dewa Wisnu. Garuda selanjutnya mendapatkan tirta suci amertha sari yang ditempatkannya dalam wadah kamandalu bertali rumput ilalang.

Dengan air suci mertha sari, para Naga berniat mandi untuk segera mendapatkan keabadian hidup. Bersamaan dengan itu, Dewa Indra yang kebetulan melintas mengambil alih air suci. Dari wadah Kamandalu, tersisalah percikan air pada sisa tali ilalang. Tanpa berpikir panjang, percikan air pada ilalang tersebut dijilati oleh para Naga. Tali ilalang sangatlah tajam bagaikan sebuah mata pisau. Tatkala menjilati ilalang tersebut, terbelahlah lidah para Naga menjadi dua bagian. Inilah asal-usul kenapa seluruh keluarga besar Naga dan semua keturunannya memiliki lidah bercabang.

Kegigihan Garuda dalam membebaskan ibunda tercintanya dari belenggu perbudakan yang tidak mengenal rasa peri kemanusiaan inilah yang kemudian oleh para founding fathers kita diadopsi secara filosofis dan disimbolisasikan dalam lambang negara kita. Garuda bermakna sebagai simbol pembebasan ibu pertiwi dari belenggu perbudakan dan penjajahan. Dengan lambang Garuda yang gagah perkasa, para pendahulu berharap Indonesia akan menjadi bangsa besar yang bebas dalam menentukan nasib dan masa depannya sendiri.

Sumber :http://radio.itjen.kemdikbud.go.id

Rabu

Konferensi Tingkat Tinggi Asia–Afrika

Konferensi Tingkat Tinggi Asia–Afrika (disingkat KTT Asia Afrika atau KAA; kadang juga disebut Konferensi Bandung) adalah sebuah konferensi antara negara-negara Asia dan Afrika, yang kebanyakan baru saja memperoleh kemerdekaan. KAA diselenggarakan oleh Indonesia, Myanmar (dahulu Burma), Sri Lanka (dahulu Ceylon), India dan Pakistan dan dikoordinasi oleh Menteri Luar Negeri Indonesia Sunario. Pertemuan ini berlangsung antara 18 April-24 April 1955, di Gedung Merdeka, Bandung, Indonesia dengan tujuan mempromosikan kerjasama ekonomi dan kebudayaan Asia-Afrika dan melawan kolonialisme atau neokolonialisme Amerika Serikat, Uni Soviet, atau negara imperialis lainnya.

Sebanyak 29 negara yang mewakili lebih dari setengah total penduduk dunia pada saat itu mengirimkan wakilnya. Konferensi ini merefleksikan apa yang mereka pandang sebagai ketidakinginan kekuatan-kekuatan Barat untuk mengkonsultasikan dengan mereka tentang keputusan-keputusan yang memengaruhi Asia pada masa Perang Dingin; kekhawatiran mereka mengenai ketegangan antara Republik Rakyat Tiongkok dan Amerika Serikat; keinginan mereka untuk membentangkan fondasi bagi hubungan yang damai antara Tiongkok dengan mereka dan pihak Barat; penentangan mereka terhadap kolonialisme, khususnya pengaruh Perancis di Afrika Utara dan kekuasaan kolonial perancis di Aljazair; dan keinginan Indonesia untuk mempromosikan hak mereka dalam pertentangan dengan Belanda mengenai Irian Barat.

Sepuluh poin hasil pertemuan ini kemudian tertuang dalam apa yang disebut Dasasila Bandung, yang berisi tentang "pernyataan mengenai dukungan bagi kerusuhan dan kerjasama dunia". Dasasila Bandung ini memasukkan prinsip-prinsip dalam Piagam PBB dan prinsip-prinsip Nehru.

Konferensi ini akhirnya membawa kepada terbentuknya Gerakan Non-Blok pada 1961.

Sejarah Konferensi Asia Afrika

KONDISI DUNIA INTERNASIONAL SEBELUM KONFERENSI ASIA AFRIKA
Berakhirnya Perang Dunia II pada Agustus 1945, tidak berarti berakhir pula situasi permusuhan di antara bangsa-bangsa di dunia. Di beberapa belahan dunia masih ada masalah dan muncul masalah baru.

Penjajahan yang dialami oleh negara-negara di kawasan Asia dan Afrika merupakan masalah krusial sejak abad ke-15. Walaupun sejak tahun 1945 banyak negara, terutama di Asia, kemudian memperoleh kemerdekaannya, seperti : Indonesia (17 Agustus 1945), Republik Demokrasi Vietnam (2 September 1945), Filipina (4 Juli 1946), Pakistan (14 Agustus 1947), India (15 Agustus 1947), Birma (4 Januari 1948), Ceylon (4 Februari 1948), dan Republik Rakyat Tiongkok (1 Oktober 1949), namun masih banyak negara lainnya yang berjuang bagi kemerdekaannya seperti Aljazair, Tunisia, Maroko, Kongo, dan di wilayah Afrika lainnya. Beberapa Negara Asia Afrika yang telah merdeka pun masih banyak yang menghadapi masalah sisa penjajahan seperti daerah Irian Barat, Kashmir, Aden, dan Palestina. Selain itu konflik antarkelompok masyarakat di dalam negeri pun masih berkecamuk akibat politik devide et impera.

Lahirnya dua blok kekuatan yang bertentangan secara ideologi, yaitu Blok Barat yang dipimpin oleh Amerika Serikat (kapitalis) dan Blok Timur yang dipimpin oleh Uni Sovyet (komunis), semakin memanaskan situasi dunia. Perang Dingin berkembang menjadi konflik perang terbuka, seperti di Jazirah Korea dan Indo-Cina. Perlombaan pengembangan senjata nuklir meningkat. Hal tersebut menumbuhkan ketakutan dunia akan kembali dimulainya Perang Dunia.

Walaupun pada masa itu telah ada badan internasional yaitu Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang berfungsi menangani masalah dunia, namun pada kenyataannya badan ini belum berhasil menyelesaikan persoalan tersebut, sementara akibat yang ditimbulkan oleh masalah-masalah ini sebagian besar diderita oleh bangsa-bangsa di Asia dan Afrika.

LAHIRNYA IDE PELAKSANAAN KONFERENSI ASIA AFRIKA
Pada awal tahun 1954, Perdana Menteri Ceylon, Sir John Kotelawala, mengundang para perdana menteri dari Birma (U Nu), India (Jawaharlal Nehru), Indonesia (Ali Sastroamidjojo), dan Pakistan (Mohammed Ali) dengan maksud mengadakan suatu pertemuan informal di negaranya. Undangan tersebut diterima baik oleh semua pimpinan pemerintah negara tersebut. Pada kesempatan itu, Presiden Indonesia, Soekarno, menekankan kepada Perdana Menteri Indonesia, Ali Sastroamidjojo, untuk menyampaikan ide diadakannya Konferensi Asia Afrika pada pertemuan Konferensi Kolombo tersebut. Beliau menyatakan bahwa hal ini merupakan cita-cita bersama selama hampir 30 tahun telah didengungkan untuk membangun solidaritas Asia Afrika dan telah dilakukan melalui pergerakan nasional melawan penjajahan.

Sebagai persiapan, maka Pemerintah Indonesia mengadakan pertemuan yang dihadiri oleh para Kepala Perwakilan Indonesia di Asia, Afrika, dan Pasifik, bertempat di Wisma Tugu, Puncak, Jawa Barat pada 9 – 22 Maret 1954, untuk membahas rumusan yang akan dibawa oleh Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo pada Konferensi Kolombo, sebagai dasar usulan Indonesia untuk meluaskan gagasan kerja sama regional di tingkat Asia Afrika.

Pada 28 April – 2 Mei 1954, Konferensi Kolombo berlangsung untuk membicarakan masalah-masalah yang menjadi kepentingan bersama.

Dalam konferensi tersebut, Perdana Menteri Indonesia, Ali Sastroamidjojo, mengusulkan perlunya diadakan pertemuan lain yang lebih luas antara Negara-negara Afrika dan Asia karena masalah-masalah krusial yang dibicarakan itu tidak hanya terjadi di Negara-negara Asia yang terwakili dalam konferensi tersebut tetapi juga dialami oleh negara-negara di Afrika dan Asia lainnya.

Usul ini diterima oleh semua peserta konferensi walaupun masih dalam suasana skeptis. Konferensi memberikan kesempatan kepada Indonesia untuk menjajaki kemungkinannya dan keputusan ini dimuat di bagian akhir Komunike Konferensi Kolombo.

USAHA-USAHA PERSIAPAN KONFERENSI 
Pemerintah Indonesia, melalui saluran diplomatik, melakukan pendekatan kepada 18 Negara Asia Afrika, untuk mengetahui sejauh mana pendapat negara-negara tersebut terhadap ide pelaksanaan Konferensi Asia Afrika. Ternyata pada umumnya mereka  menyambut baik ide ini dan menyetujui Indonesia sebagai tuan rumah konferensi tersebut, walaupun mengenai waktu penyelenggaraan dan peserta konferensi terdapat berbagai pendapat yang berbeda.

Pada 18 Agustus 1954, melalui suratnya, Perdana Menteri Jawaharlal Nehru dari India mengingatkan Perdana Menteri Indonesia tentang perkembangan situasi dunia dewasa itu yang semakin gawat, sehubungan dengan adanya usul untuk mengadakan Konferensi Asia Afrika. Memang Perdana Menteri India dalam menerima usul itu masih disertai keraguan akan berhasil-tidaknya usul tersebut dilaksanakan. Barulah setelah kunjungan Perdana Menteri Indonesia pada 25 September 1954, beliau yakin benar akan pentingnya diadakan konferensi tersebut, seperti tercermin dalam pernyataan bersama pada akhir kunjungan Perdana Menteri Indonesia :

“Para perdana menteri telah membicarakan usulan untuk mengadakan sebuah konferensi yang mewakili Negara-negara Asia dan Afrika serta menyetujui konferensi seperti ini sangat diperlukan dan akan membantu terciptanya perdamaian sekaligus pendekatan bersama ke arah masalah (yang dihadapi). Hendaknya konferensi ini diadakan selekas mungkin“.

Keyakinan serupa dinyatakan pula oleh Perdana Menteri Birma, U Nu, pada 28 September 1954.

Pada 28 – 29 Desember 1954, atas undangan Perdana Menteri Indonesia, para perdana menteri peserta Konferensi Kolombo (Birma, Ceylon, India, Indonesia, dan Pakistan) mengadakan pertemuan di Bogor, untuk membicarakan persiapan Konferensi Asia Afrika.

Konferensi tersebut berhasil merumuskan kesepakatan tentang  agenda, tujuan, dan negara-negara yang diundang pada Konferensi Asia  Afrika.

Kelima negara peserta Konferensi Bogor menjadi sponsor Konferensi Asia Afrika dan Indonesia dipilih menjadi tuan rumah pada konferensi tersebut, yang ditetapkan akan berlangsung pada akhir minggu April tahun 1955. Presiden Indonesia, Soekarno, menunjuk Kota Bandung sebagai tempat berlangsungnya konferensi.

MENJELANG KONFERENSI ASIA AFRIKA 
Dalam persiapan pelaksanaan Konferensi Asia Afrika, dibentuk Sekretariat Bersama yang diwakili oleh lima negara penyelenggara. Indonesia diwakili oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Luar Negeri, Roeslan Abdulgani, yang juga menjadi ketua badan itu, dan 4 negara lainnya diwakili oleh kepala-kepala perwakilan mereka masing-masing di Jakarta, yaitu Kuasa Usaha U Mya Sein (Birma), Duta Besar M. Saravanamuttu (Ceylon), Duta Besar B.F.H.B. Tyabji (India), dan Duta Besar Choudhri Khaliquzzaman (Pakistan).

Pemerintah Indonesia sendiri membentuk Panitia Interdepartemental pada 11 Januari 1955 yang diketuai oleh Sekretaris Jenderal Sekretariat Bersama dengan anggota-anggota dan penasehatnya berasal dari berbagai departemen guna membantu persiapan-persiapan konferensi tersebut.

Di Bandung, tempat diadakannya konferensi, dibentuklah Panitia Setempat pada 3 Januari 1955, dengan ketuanya Sanusi Hardjadinata, Gubernur Jawa Barat. Panitia Setempat bertugas mempersiapkan dan melayani hal-hal yang bertalian dengan akomodasi, logistik, transportasi, kesehatan, komunikasi, keamanan, hiburan, protokol, penerangan, dan lain-lain.

Gedung Concordia dan Gedung Dana Pensiun dipersiapkan sebagai tempat sidang-sidang konferensi. Hotel Homann, Hotel Preanger, dan 12 hotel lainnya serta 31 bungalow di sepanjang Jalan Cipaganti, Lembang, dan Ciumbuleuit dipersiapkan sebagai tempat menginap para peserta yang berjumlah lebih kurang 1.500 orang. Selain itu, disediakan juga fasilitas akomodasi untuk lebih kurang 500 wartawan dalam dan luar negeri.

Keperluan transportasi dilayani oleh 143 mobil, 30 taksi, 20 bus, dengan jumlah 230 orang sopir dan 350 ton bensin tiap hari serta cadangan 175 ton bensin.

Dalam kesempatan memeriksa persiapan-persiapan  terakhir di Bandung pada 7 April 1955, Presiden Indonesia Soekarno meresmikan penggantian nama Gedung Concordia menjadi Gedung Merdeka, Gedung Dana Pensiun menjadi Gedung Dwiwarna, dan sebagian Jalan Raya Timur menjadi Jalan Asia Afrika. Penggantian nama tersebut dimaksudkan untuk lebih menyemarakkan konferensi dan menciptakan suasana konferensi yang sesuai dengan tujuannya.

Pada 15 Januari 1955, surat undangan Konferensi Asia Afrika dikirimkan kepada kepala pemerintah dari 25 Negara Asia dan Afrika. Dari seluruh negara yang diundang hanya satu negara yang menolak undangan itu, yaitu Federasi Afrika Tengah, karena memang negara itu masih dikuasai oleh orang-orang bekas penjajahnya, sedangkan 24 negara lainnya menerima baik undangan itu, meskipun pada mulanya ada negara yang masih ragu-ragu.

Negara-negara Peserta Konperensi Asia-Afrika :

  1. Afghanistan
  2. Indonesia
  3. Pakistan            
  4. Birma
  5. IranFilipina
  6. Kamboja
  7. Irak
  8. Iran
  9. Arab Saudi
  10. Ceylon
  11. Jepang
  12. Sudan
  13. Republik Rakyat Tiongkok
  14. Yordania
  15. Suriah
  16. Laos
  17. Thailand
  18. Mesir
  19. Libanon
  20. Turki
  21. Ethiopia
  22. Liberia
  23. Vietnam (Utara)
  24. Vietnam (Selatan)
  25. Pantai Emas
  26. Libya
  27. India
  28. Nepal
  29. Yaman

ASIA AFRIKA BERGEMA DARI BANDUNG
Pada Senin, 18 April 1955, sejak fajar menyingsing telah tampak kesibukan di Kota Bandung untuk menyambut pembukaan Konferensi Asia  Afrika. Sejak pukul 07.00 WIB kedua tepi sepanjang Jalan Asia Afrika dari mulai depan Hotel Preanger sampai dengan kantor pos penuh sesak oleh rakyat yang ingin menyambut dan menyaksikan para tamu dari berbagai negara. Sementara itu, para petugas keamanan yang terdiri dari tentara dan polisi telah siap di tempat tugas mereka untuk menjaga keamanan dan ketertiban.

Sekitar pukul 08.30 WIB, para delegasi dari berbagai negara berjalan meninggalkan Hotel Homann dan Hotel Preanger menuju Gedung Merdeka secara berkelompok untuk menghadiri pembukaan Konferensi Asia Afrika. Banyak di antara mereka memakai pakaian nasional masing-masing yang beraneka corak dan warna. Mereka disambut hangat oleh rakyat yang berderet di sepanjang Jalan Asia Afrika dengan tepuk tangan dan sorak sorai riang gembira. Perjalanan para delegasi dari Hotel Homann dan Hotel Preanger ini kemudian dikenal dengan nama “Langkah Bersejarah” (The Bandung Walks). Kira-kira pukul 09.00 WIB, semua delegasi masuk ke dalam Gedung Merdeka.

Tidak lama kemudian rombongan Presiden dan Wakil Presiden Indonesia, Soekarno dan Mohammad Hatta, tiba di depan Gedung Merdeka dan disambut oleh rakyat dengan sorak-sorai dan pekik “merdeka”. Di depan pintu gerbang Gedung Merdeka kedua pimpinan Pemerintah Indonesia itu disambut oleh lima perdana menteri negara sponsor.

Pada pukul 10.20 WIB setelah diperdengarkan lagu kebangsaan Indonesia : “Indonesia Raya”, Presiden Indonesia, Soekarno, mengucapkan pidato pembukaan yang berjudul “Let a New Asia And a New Africa be Born” (Mari Kita Lahirkan Asia Baru dan Afrika Baru). Dalam kesempatan tersebut Presiden Soekarno menyatakan bahwa kita, peserta konferensi, berasal dari kebangsaan yang berlainan, begitu pula latar belakang sosial dan budaya, agama, sistem politik, bahkan warna kulit pun berbeda-beda, namun kita dapat bersatu, dipersatukan oleh pengalaman pahit yang sama akibat kolonialisme, oleh keinginan yang sama dalam usaha mempertahankan dan memperkokoh perdamaian dunia. Pada bagian akhir pidatonya beliau mengatakan :

“Saya berharap konferensi ini akan menegaskan kenyataan, bahwa kita, pemimpin-pemimpin Asia dan Afrika, mengerti bahwa Asia dan Afrika hanya dapat menjadi sejahtera, apabila mereka bersatu, dan bahkan keamanan seluruh dunia tanpa persatuan Asia Afrika tidak akan terjamin. Saya harap konferensi ini akan memberikan pedoman kepada umat manusia, akan menunjukkan kepada umat manusia jalan yang harus ditempuhnya untuk mencapai keselamatan dan perdamaian. Saya berharap, bahwa akan menjadi kenyataan, bahwa Asia dan Afrika telah lahir kembali. Ya, lebih dari itu, bahwa Asia Baru dan Afrika Baru telah lahir!”

Pidato tersebut berhasil menarik perhatian dan mempengaruhi hadirin yang dibuktikan dengan adanya usul Perdana Menteri India dan didukung oleh semua peserta konferensi untuk mengirimkan pesan ucapan terimakasih kepada presiden atas pidato pembukaannya.

Pada pukul 10.45 WIB., Presiden Indonesia, Soekarno, mengakhiri pidatonya, dan selanjutnya sidang dibuka kembali. Secara aklamasi, Perdana Menteri Indonesia terpilih sebagai ketua konferensi. Selain itu, Ketua Sekretariat Bersama, Roeslan Abdulgani, dipilih sebagai sekretaris jenderal konferensi.

Kelancaran jalannya konferensi dimungkinkan oleh adanya pertemuan informal terlebih dahulu di antara para pimpinan delegasi negara sponsor dan negara peserta sebelum konferensi dimulai yaitu pada 17 April 1955. Pertemuan tersebut menghasilkan beberapa kesepakatan yang bertalian dengan prosedur acara, pimpinan konferensi, dan lain-lain yang dipandang perlu. Beberapa kesepakatan itu berisi antara lain bahwa prosedur dan acara konferensi ditempuh dengan sesederhana mungkin dan dalam memutuskan sesuatu akan ditempuh sistem musyawarah  dan  mufakat  (sistem konsensus).

Sidang konferensi terdiri atas sidang terbuka untuk umum dan sidang tertutup hanya bagi peserta konferensi. Dibentuk tiga komite, yaitu Komite Politik, Komite Ekonomi, dan Komite Kebudayaan. Semua kesepakatan tersebut selanjutnya disetujui oleh sidang dan susunan pimpinan konferensi adalah sebagai berikut :

Ketua Konferensi                      : Ali Sastroamidjojo, Perdana Menteri Indonesia
Ketua Komite Politik                 : Ali Sastroamidjojo, Perdana Menteri Indonesia
Ketua Komite Ekonomi             : Roosseno, Menteri Perekonomian  Indonesia
Ketua Komite Kebudayaan       : Muhammad Yamin, Menteri  Pendidikan,  Pengajaran,  dan Kebudayaan Indonesia
Sekretaris Jenderal
Konferensi    : Roeslan Abdulgani, Sekretaris Jenderal Kementerian Luar Negeri Indonesia
Dalam sidang-sidang selanjutnya muncul beberapa kesulitan yang bisa diduga sebelumnya. Kesulitan-kesulitan itu terutama terjadi dalam sidang-sidang Komite Politik. Perbedaan pandangan politik dan masalah-masalah yang dihadapi antara Negara-negara Asia Afrika muncul ke permukaan, bahkan sampai pada tahap yang relatif panas.

Namun berkat sikap yang bijaksana dari pimpinan sidang serta hidupnya rasa toleransi dan kekeluargaan di antara peserta konferensi, maka jalan buntu selalu dapat dihindari dan pertemuan yang berlarut-larut dapat diakhiri.

Setelah melalui sidang-sidang yang menegangkan dan melelahkan selama satu minggu, pada pukul 19.00 WIB. (terlambat dari yang direncanakan) tanggal 24 April 1955, Sidang Umum terakhir Konferensi Asia  Afrika dibuka. Dalam Sidang Umum itu dibacakan oleh sekretaris jenderal konferensi rumusan pernyataan dari tiap-tiap panitia (komite) sebagai hasil konferensi. Sidang Umum menyetujui seluruh pernyataan tersebut, kemudian sidang dilanjutkan dengan pidato sambutan para ketua delegasi. Setelah itu, ketua konferensi menyampaikan pidato penutupan dan menyatakan bahwa Konferensi Asia Afrika ditutup.

Konsensus itu dituangkan dalam komunike akhir, yang isinya adalah mengenai :
Kerja sama ekonomi;
Kerja sama kebudayaan;
Hak-hak asasi manusia dan hak menentukan nasib sendiri;
Masalah rakyat jajahan;
Masalah-masalah lain;
Deklarasi tentang memajukan perdamaian dunia dan kerja sama internasional.
Deklarasi yang tercantum pada komunike tersebut, selanjutnya dikenal dengan sebutan Dasasila Bandung, yaitu suatu pernyataan politik berisi prinsip-prinsip dasar dalam usaha memajukan perdamaian dan kerja sama dunia.

Dasasila Bandung :

  1. Menghormati hak-hak dasar manusia dan tujuan-tujuan serta asas-asas yang termuat di dalam piagam PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa).
  2. Menghormati kedaulatan dan integritas teritorial semua bangsa.
  3. Mengakui persamaan semua suku bangsa dan persamaan semua bangsa, besar maupun kecil.
  4. Tidak melakukan campur tangan atau intervensi dalam soalan-soalan dalam negeri negara lain.
  5. Menghormati hak setiap bangsa untuk mempertahankan diri sendiri secara sendirian mahupun secara kolektif, yang sesuai dengan Piagam PBB.
  6. (a) Tidak menggunakan peraturan-peraturan dan pertahanan kolektif untuk bertindak bagi kepentingan khusus dari salah satu negara-negara besar,
    (b) Tidak melakukan campur tangan terhadap negara lain.
  7. Tidak melakukan tindakan ataupun ancaman agresi mahupun penggunaan kekerasan terhadap integritas teritorial atau kemerdekaan politik suatu negara.
  8. Menyelesaikan segala perselisihan internasional dengan cara damai, seperti perundingan, persetujuan, arbitrasi, atau penyelesaian masalah hukum , ataupun lain-lain cara damai, menurut pilihan pihak-pihak yang bersangkutan, yang sesuai dengan Piagam PBB.
  9. Memajukan kepentingan bersama dan kerjasama.
  10. Menghormati hukum dan kewajiban–kewajiban internasional

DAMPAK KONFERENSI ASIA AFRIKA
Konferensi Asia Afrika di Bandung telah membakar semangat dan menambah kekuatan moral para pejuang bangsa-bangsa Asia dan Afrika yang pada masa itu tengah memperjuangkan kemerdekaan tanah air mereka, sehingga kemudian lahirlah sejumlah negara merdeka di kawasan Asia dan Afrika. Semua itu menandakan bahwa cita-cita dan semangat Dasasila Bandung semakin merasuk ke dalam tubuh bangsa-bangsa Asia dan Afrika.

Konferensi Asia Afrika juga telah berhasil menumbuhkan semangat solidaritas di antara Negara-negara Asia Afrika, baik dalam menghadapi masalah internasional maupun regional. Beberapa konferensi antarorganisasi dari negara-negara tersebut diselenggarakan, seperti Konferensi Mahasiswa Asia Afrika, Konferensi Setiakawan Rakyat Asia Afrika, Konferensi Wartawan Asia Afrika, dan Konferensi Islam Afrika Asia.

Jiwa Bandung dengan Dasasilanya telah mengubah pandangan dunia tentang hubungan internasional. Bandung telah melahirkan faham Dunia Ketiga atau “Non-Aligned” terhadap Dunia Pertama Washington, dan Dunia Kedua Moscow. Jiwa Bandung telah mengubah juga struktur Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Forum PBB tidak lagi menjadi forum eksklusif Barat atau Timur saja.

Sumber : 
http://id.wikipedia.org/
http://asianafricanmuseum.org/

oleh _HK

Jumat

LATAR BELAKANG SEJARAH Corps brigade pembangunan (CBP)

            


            Corps Brigade Pembangunan (CBP) merupakan lembaga yang dibentuk pada tahun 1963 dalam hal itu di latar belakangi peristiwa persengketaan antara Indonesia dengan Malaysia atau istilah populernya dikenal dengan istilah “ Gayang Malaysia “, peristiwa politik tersebut yang berkaitan dengan persengketaan antara Repuplik Indonesia dengan Malaysia memperebutkan daerah Kalimantan Utara  (Serawak).
            Kondisi riil yang terjadi pada saat itu untuk conteks_nya yaitu politik luar negeri terjadi pertentangan antara gagasan Presiden Soekarno yang anti Emperalisme dengan pihak barat yang berupaya menancapkan kukunya diwilayah Malaysia. Kemudian Presiden Soekarno mengintruksikan kepada elemen bangsa untuk segera membentuk Sukarelawan Perang dan siap menggayang Malaysia.
            Intruksi Presiden tersebut secara lansung membuat seluruh elemen bangsa bersiap sedia untuk melawan Imperalisme yang akan kembali menancapkan kukunya diwilayah Asia Tenggara, Asnawi Latif pada waktu itu selaku Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama yang merupakan bagian dari elemen bangsa merasa terpanggil untuk berjuang bersama melawan iperalisme dari bangsa barat, yang terbentuk dari kalangan pelajar Nahdhiyyin yang kemudian dinamakan Sukarelawan Pelajar.
            Deklarasi dibentuknya sukarelawan Pelajar diadakan di Djogjakarta yang pada saat itu merupakan lokasi dari kantor pusat PP IPNU, dan di barengi dengan parade militer  Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang merupakan wujud dari kesiapan RI untuk Menggayang Malaysia.
            Sejak saat itulah kemudian Sukarelawan Pelajar yang dibentuk oleh Asnawi Latif tersebut berjuang demi memperjuangkan Negara dan Bangsa untuk keutuhan NKRI. Sukarelawan ini yang merupakan Embrio atau cikal bakal bagi berdirinya Corps Brigade Pembangunan (CBP) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama. Yang kemudian ditetapkan pada Konferensi Besar IPNU di Pekalongan pada tanggal 25 – 31 Oktober 1964 dengan nama Corps Brigade Pembangunan (CBP). Yang kemudian dikenal dengan “doktrin Pekalongan”
Secara etimologi  Corps berasal dari bahasa Inggris yang memilki arti kesatuan dalam komando,  Brigade berarti pasukan yang disiapkan untuk bertempur dan Pembangunan, memiliki arti membangun dalam rangka mengisi kemerdekaan. Sedangkan secara terminologi Corps brigade pembangunan berarti suatu lembaga yang dibentuk dalam satu komando untuk mengawal pembangunan.    
Pada moment tersebut Asnawi Latief selaku ketua umum PP IPNU menunjuk Rekan Harun Rosyidi untuk menjadi Komandan Teknis CBP. Pasca ditunjuk sebagai komandan tehnis CBP, rekan harun rosyidi mengumpulkan kader-kader inti IPNU yang berpotensi untuk selanjutnya dididik dan di latih kemiliteran serta keamanan guna mengantisipasi gerakan yang membahayakan keutuhan negara kesatuan republik Indonesia (NKRI) baik dari dalam maupun luar. Kondisi ini ditempuh karena stabilitas politik dan keamanan yang tidak menentu pada saat itu.
Kemudian, pada tahun 1965 saat terjadinya peristiwa G 30 S PKI. CBP sangat berperan aktif dalam upaya memberantas PKI dan antek-anteknya.  Ghirrah Patriotisme Pelajar tersebut setelah terjadinya perubahan rezim dan perubahan kondisi sosial politik Indonesia semakin surut. CBP menjadi sebuah nama yang semakin tenggelam.
Kongres XII IPNU di Garut, jawa Barat 10 - 14 Juli 1996 dalam salah satu rekomendasinya memberikan tugas kepada mandataris kongres untuk mengadakan persiapan yang berkenan dengan akan di aktifkannya kembali Corp Brigade Pembangunan  L – CBP. Dan kemudian keberadaan lembaga ini di kukuhkan pada kongres XIII IPNU di makasar Sulawesi selatan, sekaligus memberikan rekomendasi agar mengadakan pengembangan manajemen dan potensi organisasi agar lembaga ini dapat menjadi mitra masyarakat dan pemerintah dalam membangun bangsa.
Hingga kemudian masa kepemimpinan Hilmi Muhammadiyah Ketua Umum PP IPNU pada tahun 1999 CBP dideklarasikan kembali di Pondok Pesantren Pancasila Sakti Klaten Jawa Tengah. Pendeklarasian kembali ini merupakan upaya IPNU untuk bisa memberikan kontribusinya secara lebih luas pada Ere reformasi yang sedang gencar-gencarnya diteriakkan oleh masyarakat seluruh Indonesia. Kemudian rekan Hilmi Muhammadiyah menunjuk rekan Agus Salim untuk menjadi Komandan Nasional  CBP. Pasca ditunjuk sebagai Kornas CBP, rekan Agus Salim sangat gencar melakukan sosialisasi ke daerah-daerah untuk mengaktifkan kembali CBP sampai ketingkatan ranting,  Hingga memasuki kongres XIII tahun 2000 di Makasar yang menetapkan rekan Abdullah Azwar Anas sebagai Ketua Umum IPNU, selanjutnya ditunjuklah Rekan Edisyam Risdiyanto komandan Nasional.
Pada masa ini CBP bergerak pada empat bidang yakni : Kepanduan, Kepalangmerahan, SAR dan Cinta Alam. Rekan Edisyam berhasil merumuskan kembali pola CBP dengan format baru yang terangkum dalam peraturan organisasi/lembaga, penjabaran peraturan organisasi/lembaga serta sistem pendidikan dan pelatihan sebagai acuan dan panduan kegiatan CBP diseluruh Indonesia. Rumusan-rumusan tersebut dibukukan pada masa itu yang disahkan pada masa kepemimpina Al Amin Nur Wahab Nasution sebagai Pj Ketua Umum IPNU yang menggantikan Rekan Abdullah Azwar Anas.
Perjuangan CBP tidak berhenti sampai disitu saja, pada Kongres XIV Surabaya tahun 2003 yang menetapkan Rekan Mujtahidur Ridlo sebagai Ketua Umum IPNU, melanjutkan program CBP sebelumnya dibawah komando Rekan Ali Masdar Hasibuan.
Pada masa ini lebih banyak difokuskan pada praktek terjun kelapangan terutama bidang SAR dan kepalang merahan, disebabkan seringnya terjadi bencana skala nasional misalnya terjadinya Tsunami di Aceh, Tanah Longsor di Banjar Negara, Banjir bandang di Jember, Gempa Jateng-Jogja, Gempa dan Tsunami di Pengandaran Jawa Barat. Pada periode ini pula CBP yang bergerak di empat bidang yakni : Kepanduan, Kepalangmerahan, SAR dan Cinta Alam difokuskan menjadi 3 bidang yakni : Kemanusiaan, Lingkungan Hidup dan Kedisiplinan yang ditetapkan dalam Rakornas CBP pada 6 – 8 Januari 2006 bertempat di Wisma Depag Jakarta Selatan. Program ini berlanjut hingga Kongres IPNU  XV di Asrama haji Pondok Gede Jakarta, 9 – 12 Juli 2006 yang menetapkan Rekan Idy Muzayyad sebagai ketua umum IPNU dan selanjutnya menunjuk Rekan Alvin M Hasanil Haq sebagai Komandan Nasional.
Pada masa ini banyak hal yang dilakukan dalam rangka memajukan dan mengembangkan potensi kader-kader CBP diantaranya : Kemah Pelajar Hijau dalam Rangka Diklat Peduli Lingkungan 6 – 8 April 2007 di Ponpes Wali Songo Gomang Singgahan Tuban, Workshop Ke-CBP-an 17 – 20 Mei 2007 di Ponpes Maslakul Huda pati. Tidak sampai disitu saja CBP juga ikut serta dalam berbagai event kemanusiaan misalnya pada saat terjadi Banjir Bandang di Jakarta.
Hasil Workshop di Pati mengamanatkan CBP untuk menyelenggarakan Rakornas yang kemudian terselenggara pada 22 – 25 Agustus 2007 bertempat di Hotel Diamond Samarinda bersamaan dengan penyelenggaraan Rakernas IPNU. Pada Rakornas ini diputusakan beberapa hal yang bekaitan dengan Ke-CBP-an diantaranya adalah sasaran kegiatan CBP yang semula Kemanusiaan, Lingkungan Hidup dan Kedisiplinan menjadi Kemanusiaan, Lingkungan Hidup dan Bela Negara, kemudian juga pada Rakornas pada saat itu merubahan nama dari Corps Brigade Pembangunan menjadi CORPS BARISAN PELAJAR.

Kamis

BAZAR IPNU-IPPNU

Wonosobo, Disela Rapat Pleno PBNU di Universitas Sains Al-Quran (Unsiq), diadakan pameran industri rumahan karya Nahdliyin. Pameran terletak di samping masjid Unsiq itu terdiri dari 11 stan, Pameran dimulai sejak Jumat (6/9) dan akan berkhir Ahad (8/9).  

Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama Cabang Wonosbo. membuka stan Makanan Khas Wonosobo dan Buku-buku karya kader-kader IPNU-IPPNU, Di antara yang dipamerkan pelajar-pelajar NU itu adalah karica, purwaceng, tiwul instan, gula aren, renginang, tempe kemul mini, aneka macam opak, kripik kentang, dan kripik jagung.Di samping itu, stan IPNU-IPPNU juga memamerkan buku-buku karya kader IPNU Wonosobo, diantara buku itu antara lain karya Ahmad Muzan berjudul Diaspora Islam Damai. Buku itu menjelaskan tarekat dan perannya dalam penyebaran Islam serta sejarah berdirinya masjid Al-Mansur Wonosobo. Dan buku Bunga Rampai Nahdlatul Ulama Wonosobo 1931-Awal Reformasi. 



selain stan IPNU juga terdapat stan Pimpinan Cabang Fatayat NU Wonosbo. Di situ dipamerkan sekitar 26 jenis makanan ringan dan beberapa pakaian muslimah karya PAC-PAC Fatayat.  kerajinan tangan itu bersumber dari anggota Fatayat di 15 PAC. “PAC Fatayat sudah melakukan ini sejak 6 tahun yang lalu.

Stan-stan lain ada yang memamerkan kaos oblong, batik dan logo NU. PMII Unsiq memamerkan buku. Lebih seratus judul buku ada di situ. Kemudian stan LAZISNU. Stan ini  memamerkan kegiatan-kegiatan LAZISNU yang ditampilkan di baner, standing baner, pamflet. Juga majalah serta seruan-seruan untuk mengeluarkan zakat, infak dan sedekah.

Rabu

Mancanegara Tertarik Belajar NU

Nahdlatul 'Ulama (Kebangkitan 'Ulama atau Kebangkitan Cendekiawan Islam), disingkat NU, adalah sebuah organisasi Islam terbesar di Indonesia yang bergerak di bidang pendidikan, sosial, dan ekonomi.dengan menganut paham Ahlussunah waljama'ah, sebuah pola pikir yang mengambil jalan tengah antara ekstrem aqli (rasionalis) dengan kaum ekstrem naqli (skripturalis). Karena itu sumber pemikiran bagi NU tidak hanya al-Qur'an, sunnah, tetapi juga menggunakan kemampuan akal ditambah dengan realitas empirik. Cara berpikir semacam itu dirujuk dari pemikir terdahulu seperti Abu Hasan Al-Asy'ari dan Abu Mansur Al-Maturidi dalam bidang teologi. Kemudian dalam bidang fiqih lebih cenderung mengikuti mazhab: imam Syafi'i dan mengakui tiga madzhab yang lain: imam Hanafi, imam Maliki,dan imam Hanbali sebagaimana yang tergambar dalam lambang NU berbintang 4 di bawah. Sementara dalam bidang tasawuf, mengembangkan metode Al-Ghazali dan Junaid Al-Baghdadi, yang mengintegrasikan antara tasawuf dengan syariat.

Tidak hanya di Indonesia NU juga berkembang di berbagai Negara di dunia dan banyak mancanegara yang ingin belajar NU, dari mulai Masyarakat secara umum (masyarakat awam sampai para Ulama. Wakil Ketua Umum PBNU H As’ad Said Ali menyatakan, ulama negara Afghanistan dan Malaysia sangat tertarik belajar ajaran dan tradisi Nadlatul Ulama. Terutama pada sikap NU yang tasamuh, tawasuth, tawazun, dan musyawarah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Kita harus bangga menjadi NU karena banyak ulama luar seperti Afghanistan maupun Malaysia berdatangan ke Indonesia untuk mengetahui ajaran, tradisi, dan peranan NU membentuk dan mengawal Indonesia,” katanya dalam acara Halaqoh Pondok pesantren yang dilaksanakan Pesantren Luhur Wahid Hasyim Semaranag di Hotel Abbas Kudus, Jawa Tengah, Ahad (22/9).

Di depan ratusan santri dari berbagai pesantren Kudus, Jepara dan Demak ini, As’ad lebih banyak menceritakan kedatangan ulama Afghanistan yang mengunjungi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Jakarta belum lama ini.  Dikatakannya, para ulama Afghanistan sangat kagum terhadap tradisi pesantren yang melatih dan mendidik langsung para santri untuk selalu dzikir, tawadhu, berakhlakul karimah, dan takut dosa.

“Kekaguman mereka terlihat saat kita ajak mengunjungi pesantren di  Yogyakarta. Bahkan mereka sangat histeris mendapat sambuatan dengan tradisi NU Dzibaan dan istighosahan,” ujarnya.

Saat mengunjungi Museum NU di Surabaya, ulama Afghanistan melihat isi surat Komite Hijaz yang dikirim kepada Kerajaan Arab Saudi. Mereka, tutur As’ad, merasa berhutang budi pada ulama (NU) Indonesia karena surat tersebut, Masjidil haram bebas menjalankan mazhab apapun.

“Ini artinya sejarah itu penting jangan sampai hilang. Oleh karenanya orang NU selain tahu akidah maupun syariah, harus selalu menjaga sejarah dan tradisinya,” tegas As’ad.

As’ad menerangkan, hubungan antara kebangsaan dan keagamaan itu satu kesatuan yang tidak perlu dipertentangkan. Ia mencontohkan, Mbah Wahab Hasbullah pada tahun 1916 membentuk organisasi bernama Nahdlatul Wathan untuk menumbuhkan semangat keislaman dan nasionalisme.

Di akhir ceramahnya, ia menegaskan Pancasila merupakan manifestasi dari ajaran yang dibawa para wali. Pancasila adalah final dan harga mati sebagai dasar negara.

“NU berperan besar memperjuangkan Pancasila. Makanya orang NU harus mengisi dan mengawal kehidupan berbangsa dan bernegara secara damai,” tandasnya. (Qomarul Adib/Abdullah Alawi)

sumber
http://www.nu.or.id

Selasa

NU Peduli HIV & AIDS

Nahdlatul Ulama (NU) Melalui Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) tengah gencar melakukan penanggulangan Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immune Deficiency Syndrome (HIV/AIDS) melalui seminar, sosialisasi dan pelatihan kader untuk penanggulangan HIV/AIDS. 

Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Acquired Immune Deficiency Syndrome (disingkat AIDS) adalah sekumpulan gejala dan infeksi (atau: sindrom) yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus HIV, atau infeksi virus-virus lain yang mirip yang menyerang spesies lainnya (SIV, FIV, dan lain-lain).

Virusnya sendiri bernama Human Immunodeficiency Virus (atau disingkat HIV) yaitu virus yang memperlemah kekebalan pada tubuh manusia. Orang yang terkena virus ini akan menjadi rentan terhadap infeksi oportunistik ataupun mudah terkena tumor. Meskipun penanganan yang telah ada dapat memperlambat laju perkembangan virus, namun penyakit ini belum benar-benar bisa disembuhkan.

Orang yang telah mengidap virus AIDS akan menjadi pembawa dan penular AIDS selama hidupnya, walaupun tidak merasa sakit dan tampak sehat. AIDS juga dikatakan penyakit yang berbahaya karena sampai saat ini belum ada obat atau vaksin yang bisa mencegah virus AIDS. Selain itu orang terinfeksi virus HIV akan merasakan tekanan mental dan penderitaan batin karena sebagian besar orang di sekitarnya akan mengucilkan atau menjauhinya. Dan penderitaan itu akan bertambah lagi akibat tingginya biaya pengobatan. Bahaya HIV/AIDS yang lain adalah menurunnya sistim kekebalan tubuh. Sehingga serangan penyakit yang biasanya tidak berbahaya pun akan menyebabkan sakit atau bahkan meninggal.

HIV dan virus-virus sejenisnya umumnya ditularkan melalui kontak langsung antara lapisan kulit dalam (membran mukosa) atau aliran darah, dengan cairan tubuh yang mengandung HIV, seperti darah, air mani, cairan vagina, cairan preseminal, dan air susu ibu. Penularan dapat terjadi melalui hubungan intim (vaginal, anal, ataupun oral), transfusi darah, jarum suntik yang terkontaminasi, antara ibu dan bayi selama kehamilan, bersalin, atau menyusui, serta bentuk kontak lainnya dengan cairan-cairan tubuh tersebut.sekilas diskripsi singkat HIV/AIDS ini kami peroleh dari hasil Program Penanggulangan HIV/AIDS Pengurus Pusat (PP) LKNU di Hotel Surya Yudha, Jl. Raya Rejasa Banjarnegara 53482 selasa-jumat (24-27 september 2013). dimana  kami PC IPNU-IPPNU turut menjadi bagian dalam program tersebut. Program ini merupakan bentuk keprihatinan dan kepedulian NU terhadap isu HIV/AIDS di Indonesia dan Dunia Umumnya. mengutip dari NU Online terkait program ini:

Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) tengah gencar melakukan penanggulangan Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immune Deficiency Syndrome (HIV/AIDS). Pasalnya, perkembangan kasus baru virus mematikan ini, di Indonesia belum menunjukkan penurunan yang signifikan. 

Hal tersebut disampaikan Koordinator Program Penanggulangan HIV/AIDS Pengurus Pusat (PP) LKNU Hj Sri Rahayu di sela Sosialisasi Hasil Bahtsul Masail dan Pelatihan Kader NU di Hotel Bahari Inn, Jl Dr Wahidin Sudirohusodo No 1, Tegal, Jawa Tengah, Rabu (25/9) malam.
 Menurut Ayu, demikian panggilan akrabnya, Pengurus Wilayah NU (PWNU) Jawa Tengah saat ini diberi mandat sebagai Sub Recipient (SR) untuk melakukan upaya penanggulangan dan pencegahan HIV/AIDS di Jawa Tengah. Melalui forum Bahtsul Masail, NU membahas berbagai permasalahan yang terjadi, termasuk tentang HIV dan AIDS. 

Sosialisasi hasil Bahtsul Masail terkait penanggulangan HIV&/IDS diberikan kepada Pengurus Cabang, Badan Otonom, Lembaga maupun Lajnah. Khusus bagi Kader NU di 25 Kabupaten/Kota, PW NU Jawa Tengah melalui SR NU Jateng juga digelar pelatihan kader untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan tentang penanggulangan HIV dan AIDS. 

“Kami ingin memberikan penguatan kepada internal kader NU pada peningkatan capacity building dengan pemberian pengetahuan dan skiil,” tuturnya.

Intinya, lanjut Ayu, kegiatan ini diselenggarakan untuk memberikan pengetahuan mengenai HIV/AIDS dan skill menulis, serta pengembangan media visual kepada SSR, Pengurus Cabang NU, pengurus Lembaga dan Badan Otonom NU di level provinsi.

Pelatihan yang digelar 24-27 September itu dilaksanakan serempak di 4 Kabupaten Kota, yakni di Hotel Amaris, Jl. Pemuda No. 138 Semarang, Hotel Margangsa, Jl. Kebangkitan Nasional No 9, Adi Sucipto, Surakarta, Hotel Surya Yudha, Jl. Raya Rejasa Banjarnegara 53482 dan Hotel Bahari Inn, Jl. Dr. Wahidin Sudirohusodo No. 1 Tegal.

Adapun materi yang disampaikan, di antaranya, adalah Pengantar Program Penanggulangan HIV/AIDS, Kesehatan Reproduksi dan Infeksi Menular Seksual; Pengantar HIV/AIDS: HIV/AIDS Perspektif Kesehatan, Perawatan, Dukungan dan Pengobatan ODHA; Stigma dan dsikriminasi terhadap Populasi kunci ODHA; Aswaja Merespon Perubahan Sosial, Penanggulangan HIV/AIDS dalam perspektif Nahdlatul Ulama, dan Pengantar Jurnalistik dan Tehnik Fasilitasi.


Kontributor: Hakim Asnawi

Senin

PC IPNU-IPPNU Wonosobo Gelar Diklatama CBP-KPP


Wonosobo, NU Online

Pimpinan cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama’ dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama’ Kabupaten Wonosobo sedang mengadakan Diklatama (pendidikan latihan pertama) yang diselenggarakan di Desa Tawang Sari Kecamatan Selomerto Wonosobo.



Acara yang berlangsung mulai tanggal 23– 26 Juni 2013 ini diikuti oleh 80 peserta. Kegiatan ini bertujuan untuk memasifkan peran CBP-KPP di lingkungan pimpinan cabang IPNU-IPPNU Kabupaten Wonosobo.



"Karena peran CBP dan KPP sangat dibutuhkan di lingkungan ini. Dengan demikian diharapkan ke depannya nanti muncul kader-kader yang mempunyai mental disiplin yang tinggi dan peka terhadap kondisi sosial kemasyarakatan yang mempunyai wawasan kebangsaan," tutur Haryanto ketua PC IPNU Wonosobo.



Untuk menciptakan kader-kader yang mempunyai militansi dan komitmen tinggi diakhir kegiatan nanti akan diadakanlah outbound, supaya mereka mampu berkerja secara team, dengan harapan dari outbound ini dapat menambah kesolidan dan solidaritas internal mereka.




Redaktur      : Syaifullah Amin

Kontributor : Unna Febriadi

Minggu

Teguhkan Kembali Komitmen Pelajar NU


Wonosobo, NU Online

Cerahnya sang mentari yang tak menyertai puncak acara Harlah ke-59 IPNU dan Harlah ke-58 IPPNU yang dilanjutkan dengan Pelantikan pengurus Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Wonosobo masa khidmat 2012-2014 yang dihelat di Gedung Asrama Haji Wonosobo.

Ketua panitia Harlah dan Pelantikan yang diselenggarakan pada Senin (4/3), Iltiham mengatakan, acara tersebut dihadiri oleh para kader IPNU-IPPNU dari tingkat PAC hingga Ranting yang diperkirakan hingga ribuan kader yang turut serta dalam perhelatan ini , serta tamu undangan dari jami’yyah NU, Alumni NU, PC IPNU-IPPNU kariesidenan Kedu serta PW IPNU-IPPNU Jawa Tengah .  


Acara Harlah dimulai dengan mengkhatamkan Al-Qur’an 30 juz. Selain itu harlah juga diwarnai dengan lomba tumpeng untuk menyemarakkan momentum tersebut.


“Kami berharap melalui momentum harlah ini dapat memacu gerak organisasi laksana pacuan semangat untuk selalu berproses dalam kawah candradimuka bagi pelajar-pelajar NU yang bernama IPNU-IPPNU,” katanya.


Sementara itu, ketua PC IPNU Wonosobo, Ahmad Haryanto mengungkapkan, momen Harlah IPNU dan IPPNU seharusnya menjadi titik pijak awal bagi semua kader IPNU untuk meneguhkan kembali komitmen perjuangan Pelajar NU di ranah zaman yang semakin global. 


“Pengurus dan kader IPNU-IPPNU harus berupaya meneguhkan kembali semangat untuk selalu melek semua hal. Melek IT, pengetahuan dan update zaman,” ungkapnya.


Terkait dengan pelantikan, ketua PC IPPNU Wonosobo, Amintasih menyatakan, sebelum pelantikan berlangsung acara mau’idhoh hasanah dibawakan oleh KH Chabibullah Idris selaku Ketua MUI Provinsi Jawa Tengah yang diharapkan mampu untuk memompa semangat kader dengan refleksi sejarah perjalanan organisasi di tengah percaturan zaman. 


“Setelah itu acara pelantikan usai, dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng sebagai wasilah syukur atas dikukuhkannya Pengurus PC IPNU-IPPNU Kabupaten Wonosobo masa khidmat 2012-2014,” katanya.



Redaktur    : A. Khoirul Anam
Kontributor: Abe Bekti

Sabtu

CBP dan KPP Wonosobo Bersih Sungai

Wonosobo, NU Online
Corps Brigade Pembangunan (CBP) dan Korp Pelajar Putri (KPP) kabupaten Wonosobo, bergerak untuk melakukan bersih-bersih sungai Serayu, desa Kejiwan, Wonosobo, Jawa Tengah, Sabtu (9/11). Kerusakan lingkungan yang semakin parah mendorong 25 anggota CBP-KPP turun ke sungai.

“Kegiatan ini bertujuan memperkenalkan anggota agar lebih cinta terhadap keindahan alam. Anggota kita kenalkan untuk menjaga dan melestarikan lingkungan,” ungkap Komandan CBP Wonosobo Hakim Asnawi kepada NU Online, Senin (11/11).

Bersih-bersih ini, lanjut Hakim, sekaligus untuk kampanye dan sosialisasi di masyarakat untuk menjaga dan saling melestarikan lingkungan. Karena ketika  lingkungan dijaga, maka lingkungan itu pula akan bisa dimanfaatkan. Namun sebaliknya, ketika kita tidak peduli terhadap lingkungan maka lingkungan juga tidak bersahabat dengan kita.

“Kita sebagai kader muda untuk selalu menjaga dan melestarikan lingkungan,” tegas Hakim.

Sementara itu, Ketua PC IPNU Wonosobo Ahmad Haryanto mengapresiasi kegiatan bersih-bersih sungai. Kegiatan itu perlu dilanjutkan secara bertahap kepada tingkat kecintaan alam dan menjaga lingkungan.

”Saya sangat senang sekali melihat kader-kader IPNU IPPNU peduli terhadap lingkungan,” ujar Haryanto.

Kegiatan ini diharapkan mampu menarik warga untuk peduli lingkungan dan bisa selalu eksis dalam menjaga lingkungan hidup. (Fathul Jamil/Alhafiz K)


Jumat

Prihatin AIDS, IPNU-IPPNU Wonosobo Gelar Aksi Kepedulian


Wonosobo, NU Online

Pelajar Nahdlatul Ulama kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah melakukan aksi turun ke jalan. mereka membagikan selebaran perihal HIV/AIDS di alun-alun kabupaten Wonosobo, Ahad (1/12). Aksi mereka bertujuan memberi informasi kepada masyarakat tentang HIV/AIDS.


Mereka menggelar aksi sejak pukul 08.00 pagi. Aksi ini diikuti sedikitnya 20 kader IPNU-IPPNU Wonosobo. Kordinator Pelaksana Arif Syukron mengatakan, aksi itu merupakan wujud kepedulian terhadap masalah HIV/AIDS yang terus berkembang seperti pers rilis yang dikirim CBP IPNU Wonosobo.


“Pelajar NU punya perhatian khusus terhadap masalah HIV yang hingga kini belum ditemukan obatnya,” kata Arif yang juga wakil komandan CBP IPNU Wonosobo.


Ia menambahkan kader IPNU-IPPNU bisa menjadi pelopor untuk membantu pencegahan HIV/AIDS di Wonosobo. Keikutsertaan dan parsitipasi IPNU-IPPNU untuk menanggulangi penyebarluasan HIV/AIDS sangat dibutuhkan.


Aksi ini ditanggapi dengan baik dari ketua PC IPPNU Wonosobo Amintarsih. Aksi pelajar NU ini diharapkan memiliki dampak nyata terutama bagi kalangan pelajar. Kegiatan ini disudahi dengan pembacaan doa oleh semua peserta. (Alhafiz K)



Senin

Hasyim Asyari

Secarik Biografi Kecil Kyai Haji Mohammad Hasyim Asy'arie

Lahir 10 April 1875
Desa Gedang, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur

Meningga l7 September 1947
Jombang, Jawa Timur

Dikenal karena Pendiri Nahdlatul Ulama, Pendiri Pesantren Tebu Ireng
dan Pahlawan Nasional

Gelar Hadratusy Syaikh

Pasangan Nyai Nafiqoh, Nyai Masruroh

Anak:
Hannah, Khoiriyah, Aisyah, Azzah, Abdul Wahid, Abdul Hakim (Abdul Kholiq), Abdul Karim, Ubaidillah, Mashurroh, Muhammad Yusuf
Abdul Qodir, Fatimah, Chotijah, Muhammad Ya’kub


Keluarga

KH Hasyim Asyari adalah putra ketiga dari 11 bersaudara. Ayahnya bernama Kyai Asyari, pemimpin Pesantren Keras yang berada di sebelah selatan Jombang. Ibunya bernama Halimah. Dari garis ibu, Hasyim merupakan keturunan kedelapan dari Jaka Tingkir (Sultan Pajang).
Berikut silsilah lengkapnya: Ainul Yaqin (Sunan Giri), Abdurrohman (Jaka Tingkir), Abdul Halim (Pangeran Benawa), Abdurrohman (Pangeran Samhud Bagda), Abdul Halim, Abdul Wahid, Abu Sarwan, KH. Asy'ari (Jombang), KH. Hasyim Asy'ari (Jombang)


Pendidikan

KH Hasyim Asyari belajar dasar-dasar agama dari ayah dan kakeknya, Kyai Utsman yang juga pemimpin Pesantren Nggedang di Jombang. Sejak usia 15 tahun, beliau berkelana menimba ilmu di berbagai pesantren, antara lain Pesantren Wonokoyo di Probolinggo, Pesantren Langitan di Tuban, Pesantren Trenggilis di Semarang, Pesantren Kademangan di Bangkalan dan Pesantren Siwalan di Sidoarjo.
Pada tahun 1892, KH Hasyim Asyari pergi menimba ilmu ke Mekah, dan berguru pada Syekh Ahmad Khatib Minangkabau, Syekh Mahfudh at-Tarmisi, Syekh Ahmad Amin Al-Aththar, Syekh Ibrahim Arab, Syekh Said Yamani, Syekh Rahmaullah, Syekh Sholeh Bafadlal, Sayyid Abbas Maliki, Sayyid Alwi bin Ahmad As-Saqqaf, dan Sayyid Husein Al-Habsyi.


Perjuangan

Banyak sekali perjuangan yg telah beliau lakukan diantaranya yang paling terkenal adalah:
Pada tahun 1899, sepulangnya dari Mekah, KH Hasyim Asyari mendirikan Pesantren Tebu Ireng, yang kelak menjadi pesantren terbesar dan terpenting di Jawa pada abad 20.
Pada tahun 1926, KH Hasyim Asyari menjadi salah satu pemrakarsa berdirinya Nadhlatul Ulama (NU), yang berarti kebangkitan ulama selain itu beliau juga menjadi tokoh Nasional



Sabtu

PC GP Ansor Wonosobo Terbaik Nasional

gp-ansor.org, SURABAYA: Pada momentum Peringatan Harlah ke-80 Tahun, Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor mengumumkan Pimpinan Cabang Terbaik. Penghargaan ini merupakan bagian dari apresiasi terhadap kerja keras dan kinerja perjuangan Gerakan Pemuda Ansor di Tingkat Pimpinan Cabang, sekaligus agar bisa menjadi inspirasi bagi cabang yang lain untuk berperan lebih baik.
Penilaian dilakukan secara obyektif atas pelaksanaan program - program organisasi yang menjadi variabel akreditas cabang, mencakup pengembangan majelis dzikir dan sholawat Rijalul Ansor, program kaderisasi, penguatan struktur hingga tingkat ranting, pengembangan Banser, pendirian amal usaha LKP dan LKMS, dan kegiatan lain.
Akhirnya PC GP Ansor yang terbaik adalah Wonosobo. GP Ansor Cabang Wonosobo berdiri pada 1955. Dalam kurun waktu 10 tahun terahir ini Ansor Wonosobo fokus pada pemberdayaan kader, melalui pelatihan peningkatan kualitas kader, a.l. perbengkelan, las, bubut, menjahit, pengelolaan peternakan, dan perikanan. Ansor telah membuat Lembaga Kusus dan Pelatihan (LKP) Tunas Bangsa.
Organisasi yang saat ini diketuai oleh Asma Khozin S.Psi tersebut telah melatih kader Banser dalam menjadi tim penangulangan bencana dan membentuk Tim Rescue Kolo Dete. Anggotanya167 personil.
Selain itu, 2tahun terakhir Ansor Wonosobo menyiapkan kader yang akan masuk perguruan tinggi negeri. Saat ini tercatat 44 kader yang lolos masuk PTN. 
Ansor Wonosobojugamendirikan KSU Silamas (PAC Kertek), dan KSU Annamak (PAC Kepil), yang bergerak di bidang simpang pinjam untuk memperkuat permodalan anggota. Kedua koperasi ini memiliki aset  Rp1,5 miliar.
Selama 2013, kaderisasi meningkat drastis, tecermin dari 8 kali PKD dan diklatsar di tingkat PAC dengan melahirkan 2.677 kaderbaru, sehingga total kader Ansor Wonosobo mencapai lebih dari 22.000 orang.
Selain itu, enam PC nominator antara lain:
PC Ansor Kabupaten Malang
GP Ansor di Kabupaten Malang termasuk salah satu pimpinan cabang terbaik, yang selama ini aktif mendukung tiga agenda besar organisasi yakni revitalisasi nilai tradisi, kaderisasi, dan pemberdayaan potensi kader.
Pada Oktober ini, PC yang diketuai oleh Hasan Abadi ini menggelar Diklatsar Banser yang melibatkan 1.067 personeldi Pesantren Teknologi SMK Plus Al-Maarif, Candirenggo pada Sabtu – Minggi (19-20/10/2013).
Ini untuk membentuk penguatan kader di tingkat desa.“Makanya, pesertanya dari seluruh ranting yang ada di 33 PAC se Kabupaten Malang. Mereka merupakan utusan khusus yang diharapkan bisa menjadi pelopor di desanya masing-masing,” papar Hasan Abadi.
Kepeloporan itu tidak hanya pada satu aspek kehidupan saja. Namun menyeluruh. Misalnya, dalam keagamaan, sosial, budaya, keamanan dan ketertiban. Termasuk juga dalam mengantisipasi dampak bencana alam.
Makanya, kegiatan tersebut, disamping sebagai upaya penguatan kepeloporan kader Ansor di tingkat desa, juga untuk memberikan keterampilan dalam menghadapi persoalan sosial dan bencana. Sehingga, mereka mampu memberikan bantuan pada masyarakat di sekitarnya.
PC Ansor Jombang
Sejak dilantik menjadi Ketua PC Ansor Jombang GP April 2011, Sholahul Am Notobuwono langsung tancap gas melakukan pembenahan organisasi. Pengembangan pengurus di tingkat cabang maupun kecamatan dilakukan dengan pelatihan administrasi dan IT.
Ansor ataupun Banser tak pernah berhenti berkegiatan,  baik yang berhubungan dengan kader maupun dengan masyarakat, seperti pengajian bulanan di setiap Anak Cabang GP Ansor dan dibentuknya jamaah Rijalul Ansor, Pendidikan Kader Dasar (PKD), Diklat Terpadu Lanjutan (DTL) Banser, Diklatsus Banser Lalu-lintas, diklatsus Banser Tanggap Bencana, serta Diklat Terpadu Dasar untuk rekrutmen anggota Banser. Setahun tiga kali pengkaderan.
Ansor Jombang juga mendirikan koperasi Ansor di tingkat kecamatan, melakukan pendampingan dan pelatihan bersama Kadin Jombang untuk pemberdayaan usaha kader di desa seperti melalui pelatihan membuat  tahu Nagarin.
Ansor berhasil dalam usaha perikanan dengan produksi 2 juta bibit per bulan dan omzet miliaran rupiah. Dua tahun lalu, Ansor menggandeng PT Fajar Surya Swadaya untuk perekrutan 400 tenaga kerja, yang diberangkatkan ke Panajam, Kaltim.
Untuk menjaga nilai-nilai kebhinekaan, humanisme dan pluralisme, Ansor Jombang menyelenggarakan seminar dengan the Wahid Institute dan Persatuan Purnawirawan Angkatan Darat (PPAD), serta sarasehan budaya bersama Slank dan Ki Ageng Ganjur, dll.
PC Ansor Kabupaten Temanggung
PC GP Ansor Temanggung membawahi 20 PAC dan 289 pimpinan ranting, serta memiliki sekitar 7.000 anggota Banser. Di bawah kepemimpinan Yami Blumut, Sp., Ansor Temanggung punya strategi untuk mendayagunakan potensi daerah yang terkenal dengan tembakau terbaik di dunia, srinthil.
Jajaran pengurus terdiri dari aktivis lintas partai, dan kader PAC, PMII, IPNU, kader pendidikan, kader birokrasi,  serta merangkul ulama-ulama muda. Program kerja berbasiskonsolidasi internal, pendataananggota, memenuhikebutuhananggota, kerjasamadenganpemerintahdaninstansi terkait.
Ormas pelestari lingkungan hidup dan penerima penghargaan tanggap bencana dari Bupati Wonosobo ini aktif memperjuangan nasib petani tembakau, menolak bulan kondom nasional, aktif membina anak-anak pecandu miras narkoba, dengan dilatih pencak silat.
Ansor juga melakukan rehab rumah tak layak huni, dan merenovasi korban tanah longsor di Kedopokan dan Wonosobo, serta aktif melakukan santunan anak yatim piatu.
Soal pengkaderan, Ansor dan Banser telah mempersiapkan instruktur 20  orang instruksi PKD per kecamatan, dan telah memiliki 125 pelatih Diklatsar Banser.
Ansor Temanggung memiliki empat binaan LKP, dan untuk pemberdayaan ekonomi digerakan melalui Koperasi Wirausaha Nasional Pemuda Mandiri (Kowina Muda), Kelompok-kelompok tani dan unit usaha lainnya.
PC Ansor Kabupaten Batang
PC GP Ansor memiliki 15 PAC dan 215 ranting yang aktif.  Meski kepengurusan di bawah kepemimpinan Umar Abdul Jabar, S.Ag, M.Pd baru dilantik pada 29 November 2013, PC Ansor Batang telah memiliki rentetan panjang kegiatan.
Pembukaan kegiatan Rijalul Ansor dilakukan berbarengan dengan momentum pelantikan pengurus, dilanjutkan Parade Rebana se Kabupaten Batang, Lomba Akreditas Masjid, hingga Pengamanan Natal.
PC Ansor Batang mengungkapkan sejumlah tantangan yang dihadapi, seperti lasnya wilayah, memahamkan aqidah ahlussunah waljamaah terhadap kalangan pemuda, terbatasnya sumber daya manusia, sumber pendanaan, dan eksistensi lembaga Ansor yang berwibawa.
Untuk itu, PC Ansor Batang melakukan pembagian wilayah kerja terhadap pengurus cabang, menghidupkan kegiatan Rijalul ansor melalui Lomba Rebana dan Akriditasi Masjid, dan Radio Nuansa FM, PKD dan membentuk Koperasi MITRA SAHAJA, hingga pelatihan berwirausaha melalui koperasi, SANLAT.
GP Ansor Bandung Barat
GP Ansor Kabupaten Bandung Barat berdiri seiring dengan pemekaran Kabupaten Bandung menjadi Kabupaten Bandung Barat pada 2007. Ansor Bandung Barat kini telah memiliki 16 PAC dan 165 ranting.
Pada Juli 2011, Ansor Bandung Barat mengirimkan grup Marching Band Banser ke Harlah ke-85 Tahun NU di Gelora Bung Karno. Pengkaderan terus dilakukan, prestasi demi prestasi mulai diraih.
Pada 30 Juni 2013 dilaksanakan konfercab 2 gerakan pemuda Ansor Bandung Barat yang diikuti 500 orang peserta secara aklamasi menunjuk Cecep Nedi Sugilar sebagai Ketua PC GP Ansor 2013–2017. Langkah pengkaderan PKD I dilaksanakan pada 11–13 Oktober 2013 di Pesantren Darun Nadwah dikuti 105 orang kader. 
Ansor Bandung Barat kembali menggelar PKD dan Diklatsar II pada 23–25 November 2013 dilaksanakan di Pesantren Al Huda yang di Ikuti oleh 180 kader. Yang di hadiri oleh pimpinan wilayah Gerakan pemuda Ansor Jawa Barat sahabat Ketua, Sekretaris, dan pengurus lain.
PC Ansor Kabupaten Lampung Tengah
Lampung Tengah dengan ibu kota di Gunung Sugih adalah kabupaten di Provinsi Lampung. GP Ansor Lampung Tengah telah ada sejak 1960-an.
Di bawah kepemimpinan Budi Hadi Yunanto, PC GP Ansor telah melakukan kaderisasi formal, dan informal. Banser telah dua kali melakukan latihan dengan Lomba Susur Rimba yang telah di ikuti oleh 125 tim.
Ansor Lampung Tengah memiliki 28 pimpinan anak cabang. Untuk mengatasai masalah geografis yang luas, PC membentuk empat korwil berdasarkan geografis, yakni Korwil Lampung Tengah bagian Barat, Korwil Lampung Tengah bagian Utara, Korwil Lampung Tengah bagian Selatan, Korwil Lampung Tengah bagian Timur.
PC Ansor Lampung Tengah merupakan organisasi kepemudaan tersehat di Kabupaten Lampung Tengah Tahun 2013. Ansor Lampung Tengah juga aktif membangun komunikasi dengan ulama, kelompok masyarakan petani tambak, dan karyawan tambak.
PC Ansor Lampung Tengah pun aktif dalam mendamaikan kampung yang terlibat konflik antarsuku (Kampung Kesuma Dadi Kecamatan Berki dengan Kampung Buyut Udik Kecamatan Gunung Sugih), serta aktif mencegah konflik antarsuku di Kampung Kota Baru kec. Padang Ratu dengan Kampung Tanjung Harapan kec. Anak Tuha.“Kegiatan itu kami namai Siaga BAGANA,” kata Budi Hadi.(Ftm)